POTENSI BIOREFINERY SAMPAH ORGANIK BERBASIS BLACK SOLDIER FLY (Hermetia illucens) SEBAGAI ENVIROMENT TECHNOLOGY, SUMBER PAKAN, DAN BIOENERGI MASA DEPAN
POTENSI BIOREFINERY SAMPAH ORGANIK BERBASIS BLACK SOLDIER FLY (Hermetia illucens) SEBAGAI ENVIROMENT TECHNOLOGY, SUMBER PAKAN, DAN BIOENERGI MASA DEPAN
Gambar 1. Black Soldier Fly (Hermetia illucens)
PENDAHULUAN
Potensi Black Soldier Fly (Hermetia
illucens) mengubah masa depan dunia
untuk mendukung bioteknologi tidak bisa dihindarkan lagi di masa depan terutama
di bidang ilmu pengetahuan biologi dan entomologi. Bioteknologi adalah teknologi
yang memanfaatkan makhluk hidup, mikroorganisme, hewan, dan tumbuhan, serta
adanya pendayagunaan secara teknologi dan industri. Bioteknologi bertujuan
untuk memenuhi kebutuhan energi, pakan, pangan, dan pengolahan limbah secara
terpadu. Selain itu tranformasi bioteknologi masuk ke dalam disiplin ilmu lainnya
yaitu biorefinery. Biorefinery adalah ekplorasi dan biokonversi biomassa untuk
diproduksi menjadi bioenergi, bahan bakar nabati, bahan kimia, pangan, pakan
ternak, dan bahan pertanian yang ramah terhadap lingkungan.
Pengembangan sektor integrasi bioteknologi biorefinery
khususnya pada serangga penting dilakukan di Indonesia karena keanekaragaman
hayatinya sangat potensial. Indonesia dikenal sebagai negara megabiodifersity
serangga sehingga potensial dikembangkan sebagai agen bioteknologi.
Perkembangan bioteknologi di Indonesia masih tergolong dalam kategori
tertinggal jika dibandingkan dengan negara lain. Integrasi pengembangan
bioteknologi dengan memanfaatkan serangga Black Soldier Fly (BSF)
melalui pendekatan biorefinery adalah salah satu solusi menghadapi
tantangan zaman sebagai akselerasi dari pemanfaatan sumberdaya biomassa sampah
organik dan keanekaragaman serangga yang selama ini belum dimanfaatkan secara
benar.
Berdasarkan penelitian Kementrian
Lingkungan Hidup (KLHK) yang menunjukkan komposisi sampah organik Indonesia
mencapai 60% dari total 67 ton sampah per tahun 2019. Sehingga kebutuhan energi Indonesia
dari tahun ke tahun juga mengalami peningkatan karena pertumbuhan ekonomi dan
jumlah penduduk Indonesia, namun cadangan energi tidak terbarukan, seperti
minyak bumi, gas bumi, dan batu bara semakin menipis. Berdasarkan Rencana
Strategis (Renstra) Kementerian ESDM Tahun 2019, cadangan minyak bumi Indonesia
sebesar 3,6 miliar barel diperkirakan akan habis dalam 13 tahun mendatang
(KESDM, 2015). Berdasarkan data, kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan dan
tentu solusi cerdas perlu dilakukan Indonesia.
PEMBAHASAN
Gambar 2. Larva Black Soldier Fly
Indonesia juga diperkirakan akan
mengalami krisis pangan, pakan, energi terbarukan dan bahan kimia pada tahun
2025. Sedangkan sumber pangan esensial bagi manusia adalah protein hewani.
Inovasi yang dapat dikembangkan adalah Black Soldier Fly (Hermetia illucens)
sebagai pakan karena kandungan protein yang tinggi, baik secara kualitas maupun
kuantitas. Tepung Black Soldier Fly (Hermetia illucens) mempunyai
kandungan protein dan profil asam amino yang lebih baik dari bungkil kedelai
serta menyerupai tepung ikan. Hal tersebut mendorong penelitian serangga BSF
untuk digunakan sebagai pakan ternak atau sumber protein. Potensi sumber daya
biomassa yang besar ini sangar relevan dengan bioteknologi berbasis Black
Soldier Fly (BSF) yang dapat diaplikasikan untuk mengatasi permasalahan
tersebut. Fakta tersebut tentu bukanlah bencana bagi Indonesia, akan tetapi
merupakan peluang yang besar bagi pengenbangan sektor industri seragga Black
Soldier Fly (BSF) melalui pendekatan bioteknologi biorefinery yang ramah
lingkungan.
Keuntungan penggunaan bioteknologi
biorefinery ini adalah bersifat sustainable, ekonomis, dan ramah lingkungan.
Selain itu metode biorefinery yang dapat digunakan beragam misalnya
transformasi, fraksionasi, konversi termokimia atau biokimia. Bahan baku yang
dapat digunakan luas berupa residu organik, residu pertanian, residu kehutanan,
kayu, dan biomassa organik. Hasil produk biorefinery beragam dan dapat
dikelompokkan dalam dua kategori besar yaitu produk material dan produk energi.
Produk energi terpenting yang dapat diproduksi biorefinery adalah biofuel
biogas, biometana, bioetanol, biodiesel. Produk bahan kimia, asam organik,
polimer, plastik, biomaterial, makanan dan pakan ternak serta pupuk.
Menurut Fahmi (2015), larva BSF
mempunyai kandungan protein kasar dengan rentang 45-50 % dan kandungan lemak
kasar yang cukup tinggi yaitu 24- 30 %. Kandungan asam laurat minyak larva BSF
berkisar antara 21,4-49,3 % dari total asam lemak (Tran et al. 2015). Potensi
lemak dan protein yang besar pada BSF sangat potensial untuk dimanfaatkan
menjadi biodiesel, pangan, dan pakan ternak. Hal tersebut tentu merupakan
solusi yang cerdas untuk menghadapi ancaman krisis energi di masa mendatang.
Solusinya adalah dengan konversi lemak dan minyak larva Black Soldier Fly
(BSF) sebagai bionergi dan minyak nabati yang ramah lingkungan. Selain itu
solusi alternatif yang dapat ditawarkan adalah pengembangannya dalam sektor
industri petrokimia berbasis serangga BSF.
Berikut ini adalah gagasan yang akan
penulis sampaikan sebagai representasi inovasi, dan solusi dari
permasalahan-permasalahan yang telah diuraikan diatas guna mendukung potensi
bioteknologi Black Soldier Fly (Hermetia illucens) sebagai Environment
Technology, sumber pakan, dan bioenergi masa depan yang terbarukan :
Pertama adalah potensi Black
Soldier Fly sebagai Environment Technology. Teknologi Black
Soldier Fly (Hermetia illucens) potensial untuk dikembangkan sebagai Environment
Technology, karena Black Soldier Fly (Hermetia illucens) mempunyai
kemempuan yang luar biasa dalam mendegradasi sampah organik padat maupun cair.
Larva serangga Black Soldier Fly tidak hanya merombak biomassa limbah
organik, namun juga memberikan kondisi yang aerobik, membantu mengurangi volume
dan kadar air bahan terombak, dan juga mengurangi bau yang biasa ditimbulkan
dalam degradasi bahan organik sehingga sangat cocok untuk dijadikan agen
bioremediator komposting. Preferensi dan kemampuan dekomposisi bahan organik
oleh BSF telah dilaporkan lebih baik dibandingkan cacing tanah, yang saat ini
sudah banyak dikembangkan sebagai agensia pengomposan. Oleh sebab itu,
teknologi pengomposan sekaligus produksi
bahan pakan menggunakan BSF sangat potensial untuk dikembangkan. Apalagi untuk
dilakukan di perkotaan yang memiliki tingkat produksi bahan organik sangat
banyak dan cepat, memiliki keterbatasan luas lahan, tenaga serta waktu dalam
mengelola limbah organik diperkotaan.
Banyak hal yang menjadi pertimbangan
dalam memanfaatkan lalat BSF sebagai agensia pengomposan. Beberapa diantaranya
meliputi kemampuan dalam mengkonversi bahan organik segar menjadi pupuk organik
atau kompos. BSF secara mandiri dapat secara langsung mengonsumsi limbah
organik, kemudian menghasilkan bahan organik terdekomposisi yang dapat
dimanfaatkan oleh biomassa mikroba agar kompos menjadi lebih matang. Kelebihan
lain adalah serangga dewasa BSF dapat hidup mandiri dan tidak membutuhkan
makanan ataupun perlakuan pemeliharaan khusus.
Kedua adalah potensi pengembangan bioteknologi Black Soldier Fly
sebagai Pakan dan Bioenergi Masa Depan. Potensi tersebut tentu tidak mustahil
karena lalat Black Soldier Fly mempunyai kandungan protein kasar dengan
rentang 45-50 % dan kandungan lemak kasar yang cukup tinggi yaitu 24-30 %.
Larva BSF yang diekstrak menghasilkan minyak dengan persentase profil asam
lemak paling tinggi adalah asam lemak jenuh. Asam lemak jenuh didominasi oleh
asam lemak jenuh rantai sedang (MCFA) C12:0 atau dikenal sebagai asam laurat.
Kandungan asam laurat minyak larva BSF berkisar antara 21,4-49,3 % dari total
asam lemak (Tran et al. 2015). Kandungan protein pada larva ini cukup tinggi,
yaitu 44,26% dengan kandungan lemak mencapai 29,65%. Nilai asam amino, asam
lemak dan mineral yang terkandung di dalam larva juga tidak kalah dengan
sumber-sumber protein lainnya, sehingga larva BSF merupakan bahan baku ideal
yang dapat digunakan sebagai pakan ternak (Fahmi et al. 2007). Potensi lemak
dan minyak yang tinggi ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagai sumber
bioenergi masa depan seperti biofuel dan biodiesel.
Berdasarkan fakta-fakta tersebut
diatas pemanfaatan larva BSF potensial sebagai pakan ternak, produk yang dapat
dibuat dan dihasilkan adalah fresh maggot, maggot kering sebagai pakan
suplemen, dan dapat diolah lebih lanjut
sebagai
pakan dalam bentuk pellet. Selain itu larva BSF dapat digunakan sebagai protein
alternatif untuk dikonsumsi manusia. Misalnya saja diluar negeri, larva BSF
sudah dikembangkan sebagai makanan manusia kaya protein dan diolah menjadi
berbagai jeni makan yang cocok bagi vegetarian dan orang-orang yang mulai
melakukan pola hidup sehat.
Ketiga adalah potensi Black
Soldier Fly (Hermetia illucens)
berdasarkan aspek Ekonomi dan Peluang Bisnis. Teknologi Black Soldier Fly
(Hermetia illucens) potensial untuk dikembangkan sebagai sirkuler ekonomi
yaitu siklus hulu sampai hilir dimana petani menghasilkan makanan, kemudian
dibawa dan dijiual di kota, namun dalam prosesnya baik proses distribusi, dan
pengolahan makanan sangat banyak menghasilkan limbah atau sampah organik. Budidaya
BSF saat ini masih sangat terbuka lebar, apalagi sekarang para petani
membutuhkan pakan alternatif dan sumber protein alternatif yang dapat
diproduksi sendiri dan Black Soldier Fly (Hermetia illucens) sangat
berpeluang besar untuk menangkap pasar baik untuk kebutuhan pakan ikan konsumsi
maupun ikan hias.
Produk yang dapat dihasilkan melalui
pengembangan biorefinery berbasis Black Soldier Fly (Hermetia illucens)
sangat beragam mulai dari pupuk yang dapat dijual untuk konsumen baik retail,
maupun beberapa perusahaan yang menbutuhkan pupuk organik. Pupuk organik hasil
dekomposisi Black Soldier Fly (Hermetia illucens) terbukti mampu
menstimulus pertumbuhan tanaman jauh lebih baik. Selain itu untuk produk pakan
dapat dijual dalam bentuk pakan fresh maggot, dried larva, maupun pakan dalam
bentuk pellet yang berbahan dasar larva Black Soldier Fly yang dapat
dijual kepada petani, maupun komunitas pencinta ikan hias.
Peluang
bisnis berbasis teknologi Black Soldier Fly sangat terbuka lebar,
terutama bagi para milenial, biasanya kaum milenial apabila melihat sampah
tentu akan merasa jijik, padahal hal tersebut merupakan peluang untuk
mengembangkan bisnis berbasis teknologi Black Soldier Fly ini. Sementara
peluang bisnis ini sangat menjanjikan karena fasilitas dan peralatan yang
dibutuhkan tidak terlalu banyak. Apabila kita ingin memulai bisnis berbasis
teknologi BSF peralatan yang diperlukan adalah kandang lalat yang relatif murah
dan tidak memerlukan teknologi dalam penggunaanya. Sedangkan selebihnya kita
hanya membutuhkan biopound, ember yang digunakan untuk memilah sampah, dan alat
pencacah, jadi investasi alat yang digunakan relatif tidak terlalu banyak dan
mahal.
Selain itu harga larva Black Soldier Fly lebih murah jika dibandingkan dengan tepung ikan. Harga tepung ikan lokal berkisar Rp. 12.000 per kilogram dan tepung ikan impor mencapai Rp. 15.000 per kilogram (Hadadi et al. 2007). Rachmawati et al. (2010) menyebutkan bahwa harga pelet berbasis larva BSF adalah Rp. 3.500 per kilogram. Harga ini lebih murah dibandingkan dengan harga pelet komersial yang mencapai Rp. 7.000-10.000 per kilogram sehingga secara ekonomis cukup menguntungkan bagi peternak.
PENUTUP
Gambar 3. Proses Biorefinery Oleh Larva BSF
Kesimpulannya adalah permasalahan krisis pangan,
krisis pakan, sumber energi yang dihadapi Indonesia dapat diatasi setidaknya
melalui potensi dan pengembangan bioteknologi biorefinery berbasis
Black Soldier Fly (Hermetia illucens) sebagai Enviroment Technology,
sumber pakan, dan bioenergi masa depan. Potensi sumber daya hayati yang
dimiliki indonesia yaitu Black Soldier Fly (Hermetia illucens) memiliki
potensi yang sangat luar biasa untuk dikembangkan di Indonesia sebagai solusi
atas permasalahan lingkungan terutama permasalahan sampah organik. Penerapan
bioteknologi biorefinery berbasis Black Soldier Fly (Hermetia illucens) juga
memiliki potensi yang luar biasa untuk dikembangkan sebagai sistem
perekonomiaan nasional yang berkelanjutan berwawasan lingkungan yang bersifat
proaktif.
Indonesia sebagai pemilik potensi
yang besar tersebut apabila tidak bisa menerapkan pertimbangan lingkungan dan
aspek pengembangan IPTEK maka Indonesia tidak akan bisa bersaing dengan
internasional. Indonesia akan mengalami kerugiaan dan tantangan krisis
lingkungan yang lebih berat di masa depan. Selain itu Indonesia berpotensi
menjadi episentrum bioteknologi dunia apabila mampu mengembangkan potensi
sumber daya hayati terutama serangga khususnya serangga Black Soldier Fly.
Tantangan di masa depan memang akan berat dilalui oleh Indonesia, akan tetapi
dengan semangat dan optimisme, serta kerja keras untuk mengembangkan
potensi-potensi sumber daya yang ada, maka permasalahan tersebut dapat diatasi
segera.
Selain itu penulis juga menyimpulkan
bahwa integrasi bioteknologi melalui pendekatan biorefinery berbasis serangga Black
Soldier Fly (BSF) merupakan solusi yang cerdas bagi pengembangan beberapa
aspek berikut: (1) Kelestarian lingkungan hidup, (2) Pengembangan IPTEK
khususnya bidang bioteknologi serangga, (3) Pengembangan bioenergi masa depan
yang ramah lingkungan berbasis serangga, (4) Potensi dan pengembangan ekonomi
berbasis serangga.
Berdasarkan uraian dan
gagasan-gagasan yang penulis uraikan diatas akhirnya penulis berharap melalui pemaparan
potensi-potensi sumber daya serangga Black Soldier Fly (Hermetia illucens)
yang besar dan menjajikan ini benar-benar mampu menjadi solusi cerdas untuk
menghadapi tantangan krisis pakan, energi, dan lingkungan di masa depan.
Sehingga potensi yang besar tersebut dapat segera terealisasikan sehingga tidak
hanya mampu menghadapi tantangan di masa depan tetapi juga meningkatkan
perekonomiaan dan diterapkan di masyarakat serta kelestariaan lingkungan hidup.
Akhir kata penulis berharap pengembangan dan potensi seranggga Black Soldier
Fly (Hermetia illucens) mampu menciptakan masa depan yang lebih baik.
REFERENSI
Fahmi, M.R. 2015. Optimalisasi Proses Biokonversi dengan Menggunakan Minilarva Hermetia
illuscens untuk Memenuhi Kebutuhan Pakan Ikan.
Depok
: Biodiversitas
Indonesia.
Fahmi, M.R, Hem S, Subamia IW. 2007. Potensi Maggot Sebagai Salah Satu Sumber Protein Pakan Ikan. Dukungan Teknologi untuk Meningkatkan Produk PanganHewan dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat. Bogor : Puslitbangnak.
Hadadi A, Herry, Setyorini, Surahman A, Ridwan E. 2007. Pemanfaatan limbah sawit untuk bahan pakan ikan. Jurnal Budidaya Air Tawar. 4:11-18
KESDM. 2015. Rencana Strategis Kementerian ESDM Tahun 2015-2019 (Renstra KESDM 2015–2019). Jakarta:Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM).
Rachmawati, Buchori D, Hidayat P,Hem S, Fahmi MR. 2010. Perkembangan Kandungan Nutrisi Larva Hermetia illucens (Linnaeus) (Diptera: Startiomyidae) pada Bungkil Kelapa Sawit. J Entomol I ndones.Vol 7:2841.
Tran G, Heuzé V, Makkar HPS. 2015.Insects in fish diets. Anim Front 5(2): 3744.
Komentar